Matawanita.net – Menutup mata kanan dan kiri secara bergantian bisa menjadi salah satu cara untuk mengetahui kecurigaan terkait penyakit glaukoma pada seseorang.
Hal ini disampaikan dokter spesialis mata konsultan glaukoma KSM Mata FKUI RSCM Dr dr Virna Dwi Oktariana, SpM(K).
Untuk diketahui, penyakit glaukoma merupakan penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokular (tekanan di dalam bola mata) yang tinggi dan merusak saraf optik mata.
Penyakit glukoma dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara perlahan-lahan dan tanpa gejala awal yang jelas, sehingga sering disebut sebagai “pembunuh bisu”.
Tekanan intraokular yang tinggi disebabkan oleh penumpukan cairan mata (humor aquosus) di dalam bola mata yang tidak bisa mengalir keluar dengan baik. Cairan ini diproduksi di bagian depan bola mata dan harus mengalir keluar melalui jaringan khusus, tetapi jika aliran ini terganggu, tekanan intraokular akan meningkat dan merusak saraf optik.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit glaukoma, antara lain usia tua, riwayat keluarga, penyakit diabetes, penggunaan steroid, dan tekanan darah tinggi.
Penanganan glaukoma dapat dilakukan melalui berbagai cara, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis glaukoma. Pengobatan dapat berupa obat tetes mata, operasi, atau terapi laser.
Pengobatan yang tepat dapat memperlambat atau menghentikan kerusakan saraf optik, sehingga penting untuk mendeteksi glaukoma sedini mungkin melalui pemeriksaan mata rutin.
“Bandingkan mata kanan dan mata kiri, tutup. Kalau kita lihat kanan dan kiri berbeda nah itu mulai periksa. Jangan-jangan ada glaukoma, tetapi belum tentu makanya harus periksa dulu (ke dokter),” kata Virna melalui Instagram Live RSCM Kencana, Rabu (15/3/2023).
Perbedaan ini salah satunya pada lapang pandang. Biasanya gangguan lapang pandangnya antara mata kanan dan kiri tidak bersamaan atau dengan kata lain cenderung lebih berat pada salah satu mata terlebih dulu.
Virna mengatakan glaukoma biasanya dialami orang berusia rata-rata di atas 40 tahun sehingga ini disebut penyakit degeneratif. Peluang anak-anak dan orang muda terkena penyakit ini tergolong sedikit yakni kurang dari 10 persen.
Kebanyakan kasus atau sekitar 70 persen glaukoma disebabkan riwayat keluarga. Oleh karena itu, apabila ada satu anggota keluarga yang terdiagnosis glaukoma maka anggota lainnya berisiko mengalami penyakit serupa sekitar empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka tanpa riwayat keluarga terkena glaukoma.
Virna pun menyarankan orang-orang ini melakukan pemeriksaan mata ke dokter, meliputi pemeriksaan tekanan bola mata dan kebanyakan tekanan bola mata pasien glaukoma di Indonesia tergolong tinggi, pemeriksaan keadaan bagian depan dan bagian belakang belakang dan pemeriksaan obyektif yakni imaging bola mata untuk bisa melihat ketebalan saraf mata, retina, berapa kerusakan yang sudah terjadi.
“Jangan lupa pemeriksaan lapang pandang, itu bisa melihat adakah penyempitan lapang pandang atau tidak. Kita bisa lihat berapa besar kerusakannya, berapa banyak yang sudah mengalami gangguan,” kata Virna.
Glaukoma termasuk jenis gangguan penglihatan akibat terjadinya kerusakan saraf mata yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.Pada kasus akut, pasien bisa mengalami mata merah, mengeluh sakit kepala, penglihatan buram. Sementara pada kasus kronik, glaukoma justru tak memunculkan keluhan dan gejala.
“Tahu-tahu lapang penglihatannya menurun jadi menyempit. Di situ kita harus mulai hati-hati kalau lapang pandang mulai menyempit,” demikian kata Virna.
Glaukoma terbagi menjadi sudut terbuka dan sudut tertutup. Menurut Cleveland Clinic, orang dengan glaukoma sudut tertutup di satu mata memiliki peluang 40 persen hingga 80 persen untuk mengembangkan jenis glaukoma yang sama di mata lainnya dalam waktu lima hingga 10 tahun.
Orang yang berisiko terkena glaukoma sudut tertutup biasanya cenderung memiliki mata yang kecil, bola mata pendek, kornea mata cenderung lebih mendatar dan menggunakan kacamata plus untuk melihat jauh.
“Kalau untuk yang sudut terbuka, risikonya bisa kita lihat atau bisa mulai curiga itu apabila masalah usia 40 tahun ke atas, dari sisi kacamatanya minus yakni orang-orang yang melihat jauhnya menggunakan kacamata minus. Apalagi kalau minusnya agak besar atau tinggi yakni di atas enam, kita harus mulai hati-hati,” jelas Virna.